Posts

PATAS

PATAS. Cepat dan terbatas. Puluhan tahun menyelami dunia perpatasan, aku menjadi saksi sebuah peradaban. Peradaban di atas patas. Pernahkah kauperhatikan, peradaban yang aku bicarakan? *** Matahari makin terasa menggigit kulit kondektur yang tak henti meneriakkan tempat-tempat perhentian penumpangnya. Sementara mata si supir kian menyipit. Silau melihat jalanan di hadapannya. Tengah hari yang seharusnya lebih enak dinikmati dengan duduk santai di halaman rumah, atau mungkin lelap di atas kasur busa kualitas rendah, terpaksa harus mereka isi dengan bolak-balik melintasi kota Jakarta. Dua manusia yang usianya sudah di ujung senja. Lihat saja rambut putih yang telah menguasai kepala mereka, ditambah kerutan kulit yang semakin memperjelas usia keduanya. Para kakek yang tak sepantasnya narik patas. Aku pernah mendengar seorang penumpang yang iseng bertanya pada si supir, “Pak, umurnya berapa?”  Sambil tetap serius mengemudi, si supir menyahut asal, “waduh, saya lupa!” ...

Jumat Kiamat

Ciputat, 06-07 November 2011 Aku telah mati pada hari kiamat . *** Dia memandangi selembar buletin agama yang baru saja ia dapatkan dari seorang pria berbaju koko putih yang sudah kumal. Selembar buletin yang terasa mengusik pikirannya. Dia baca lagi judulnya yang dicetak dengan huruf kapital ekstra besar: KIAMAT DATANG PADA HARI JUMAT Sejujurnya, dia enggan membaca seluruh isi buletin tersebut. Merasa percuma. Toh, sudah sejak lama ia memang percaya bahwa kiamat datang pada hari Jumat. Sejak kiamat berkunjung padanya. Bertahun-tahun lalu. Kiamat yang membunuh jiwanya. Jiwa yang bahkan belum sempat tumbuh. Hari itu, hari Jumat. Dia masih berseragam putih-abuabu. Duduk mengerjakan PR dengan serius. Dia yang terlalu tak acuh untuk menyadari bahwa lelaki yang berlutut di hadapannya bersungguh-sungguh. Dia melirik lelaki itu dengan tatapan jengah. Hari itu dia sedang tak mau diganggu. Sebuah keinginan fatal yang dikabulkan Tuhan. Selamanya dia akan tidak tergang...

suami orang: tabu

Ciputat, 5 November 2011 Aku bermimpi, kau dan aku mati terbunuh tabu. *** “Aku mencintai kamu.” Satu hari kau katakan itu padanya. Saat itu, nyaris tengah malam. Kalian duduk di kolong jalan layang. Jalanan begitu lengang. Hanya temaram lampu jalan yang menemani kalian. Kau yang kata orang bajingan, nyatanya mengatakan itu tanpa menggenggam tangannya. Ah, bahkan kau hampir tidak pernah menyentuhnya. Kaubilang dia terlalu berharga untuk dikotori oleh tangan-tangan berpeluhmu. Kau hanya menatap matanya. Sepasang mata yang bikin dia bertanya-tanya di dalam kepala, cinta seperti apa yang kaumaksudkan? Apakah seperti cinta dalam kisah-kisah roman klasik? Hingga kalian harus mati hanya untuk bahagia berdua di alam sana? Apakah seperti cinta dalam negeri dongeng? Hingga semesta membela kalian habis-habisan dan menghilangkan semua penghalang lalu hidup bahagia selamanya? “Cinta seperti apa.. yang kaumaksudkan?” Dia akhirnya meludahkan isi kepalanya. Dia yang entah sej...

suami orang: satu malam

Ciputat, 31 Oktober 2011 Kepada kalian yang jatuh di dua hati, cintamu serupa jiwaku: abuabu. *** Satu malam, kau pernah membuat dia sungguh terlena. Bahagia tak terkira. Tepat ketika namamu muncul dalam layar telepon genggamnya. Wajahnya bahkan sudah tersipu saat itu juga. Lalu, dengan degup jantung malu-malu, dia mengangkat panggilanmu itu. Dia tersenyum saat suara beratmu mulai menyapa. Sebuah ‘halo’ yang terasa sejuk dalam jiwanya. Kau yang menanyakan kabar sesudahnya, makin membuat senyumnya merekah. Pipinya merona ketika dia mengatakan, dia baik-baik saja. Kau lantas tertawa pelan. Kemudian, diam sesaat. Seolah membiarkan rasa-rasa merayap lewat hening malam. Seolah membiarkan dia tenggelam dalam kebahagiaannya. Kebahagiaan maya. Detik berikutnya, kata itu akhirnya meluncur juga dari mulutmu. Melangkah mantap lewat telinganya, langsung menuju sasaran utama: hatinya. Dia diam. Tak tahu harus membalas dengan kata apa. Sejujurnya bahkan terkejut dan tak siap dengan s...

hari palsu

cimahi, 31 agustus 2011 inikah.. hari itu? hari ketika tawa palsu tersebar di berbagai penjuru nyaringnya terdengar serupa desing peluru menghadirkan berjuta kebahagiaan semu lalu, tak lama segalanya runtuh dan kembali.. inikah.. hari itu? hari ketika kotoran hati seharusnya benar-benar luruh lu-ruh bukan begitu?

jarum dan benang

Ciputat, 25 Agustus 2011 this pain is just too real there’s just too much that time cannot erase.. (Evanescence – My immortal) *** Kau berdiri menghadapi pusaran waktu. Terlalu nyaman dalam masa lalu. Hingga detik berdentang kuat-kuat dan menyadarkanmu. Bahwa semua telah berlalu. Bahwa kau harus bergerak maju. Lalu, matamu terbuka lebar-lebar. “ Lihatlah! ” detik menarik tanganmu, membawamu pada satu-satunya manusia yang mengacak-acak hidupmu yang agung. Manusia itu masih berdiri tegak. Masih sekokoh dahulu. Kau berharap manusia itu menyambutmu dengan hangat. Tapi tidak. Kau berharap manusia itu rela tersenyum sedikit saja. Tapi tidak. Kau berharap manusia itu mau menjabat tanganmu sebentar saja. Tapi tidak. Meski kau berharap. Sangat berharap. Bukankah begitu caranya memperlakukan kawan lama? Bukankah kau dan aku tak pernah lebih dari sekadar kawan saja? Hatimu berbisik pelan. Detik menyeretmu semakin dekat. Lalu, kau menyadarinya. Akhirnya, kau menyadarinya. ...

tentang dia: satu

Ciputat, 21-22 Agustus 2011 Tersenyumlah. Kau dan aku adalah satu. Untuk itu, hidup bersama sudah tak lagi perlu... *** Dia tersenyum di depan pintu kamarku. Membawa dua kaleng kopi. Sungguh aneh melihatnya tampak begitu ceria kali ini. Keanehan yang sempat membuatku lupa untuk mempersilakan dia masuk. “apakah kita hanya akan berdiri di depan pintu kali ini?” katanya lembut. Masih tetap tersenyum. Kamu sakit? Dia menggeleng. Melenggang masuk ke kamarku dengan santai. Tidak terburu-buru seperti hari-hari yang lalu. Meletakkan kedua kopi kalengnya di meja kerjaku, lantas duduk di kasurku. Aku memilih duduk di kursi kerjaku. Memandangi dia yang... berbeda. Ada apa kali ini? “Aku sedang bahagia.” Dia tertawa kecil, “betul-betul bahagia. Kautahu, aku telah bertemu dengan Tuan-Yang-Tepat! Tuan yang hanya ada satu di dunia. Tuan yang tak perlu kaumiliki, tapi sudah cukup membuatmu bahagia hanya dengan mengetahui bahwa dia ada . Itu saja. Apa ya istilahnya... hmmm......