Saturday, February 4, 2012

tentang dia: kejutan Tuhan

Ciputat, 04 Februari 2012

Dia menatap mataku dengan serius. Lalu, bertanya, “Berapa banyak lelaki yang ada di dunia? Tak adakah lajang yang tersisa?”

“…”, aku kehilangan suara.

***

Memperhatikan dia merendam kaki di kolam dan menendang-nendang pelan di dalamnya, sejujurnya agak membuatku tergoda juga untuk duduk di sebelahnya dan melakukan hal yang sama. Tapi, seseorang yang tampak berusia matang dengan kemeja, dasi, dan celana selicin ini tentu akan terlihat ajaib jika melakukan hal kekanakan seperti itu. Maka aku hanya tersenyum dan menggeleng ketika dia menepuk-nepuk batu pualam kolam di sebelahnya, menawariku duduk. Melihat reaksiku, dia malah tertawa.

“kau terlalu kaku!” katanya lalu terkikik pelan. 

Ada apa kali ini?

Ya. Aku heran sekali. Baru sekali ini dia memintaku bertemu di tempat selain kamar kosku. Malah aku juga tak menyangka, dia memilih taman seramai sore ini untuk bertemu. 

“Ngga ada apa-apa.” Dia tersenyum, kubaca keraguan dalam senyumnya. “lagi pingin lihat anak-anak main aja..”

Dia menarik napas dalam sebelum kembali tersenyum sambil memperhatikan anak-anak balita yang berlarian di sekitar taman. Kuikuti arah mata dia. Balita-balita yang memang benar-benar menggemaskan. Tampak bugar dan begitu bahagia berlarian ke sana ke mari. Tawanya yang renyah membuat siapapun yang mendengarnya pasti ikut tergelitik juga. Termasuk aku. Aku tertawa pelan memperhatikan malaikat-malaikat kecil itu berkejaran dengan bunda mereka. Bunda mereka..

Aku lekas menoleh. Kudapati dia yang tersenyum dengan mata sendu. Menerawang begitu jauh sebelum akhirnya menghela napas lagi dengan berat.

Kamu..

“aku suka anak-anak. Selalu suka.” Kaki mungilnya masih bergerak-gerak pelan di dalam kolam. Lantas, dia diam sebentar.

Kudengar suara berdebam pelan sebelum akhirnya suara tangis bocah yang sedari tadi kami perhatikan membahana. Aku melirik bocah itu. Si Bunda dengan panik sibuk mengelus-elus lutut anaknya tercinta itu. Si Bunda dengan cekatan segera menggendong balitanya yang masih menangis kesakitan, menepuk-nepuk punggungnya dengan penuh kasih sayang. Berusaha menenangkan. Kulirik dia. Dia juga masih memperhatikan pemandangan itu dengan aura melankolis yang begitu terasa. 

“kau tahu kan, kalau aku suka anak-anak.” Dia mengulang lagi kalimat yang beberapa saat lalu dikatakan padaku. Seolah meyakinkan bahwa aku sungguh-sungguh mendengar kalimatnya tadi. “tapi, aku sungguh tak mengira bahwa Tuhan begitu baiknya padaku. Tuhan tentu tahu kalau aku suka anak-anak. Tuhan tahu bagaimana cara terbaik untuk mengejutkanku. Tuhan selalu tahu.”

Di kejauhan sana, kulihat sebuah mobil merapat ke sisi taman. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pria berkemeja cokelat muda bergaris. Berperawakan tinggi dengan rambut agak ikal. Mata sipitnya melirik sekilas ke arah kami. Tunggu. Bukan.. bukan kami ternyata. Mata sipitnya melirik ke arah dia. Dia yang juga menatap si pria itu lekat-lekat. Empat bola mata yang saling menatap. Tatapan yang membuatku nyaris tertawa. Nyaris tertawa karena mengira si pria akan berjalan ke arah kami. Nyaris tertawa karena mengira dia memintaku bertemu untuk memperkenalkan aku dengan pria bermata sipit itu. Nyaris tertawa sebelum akhirnya kulihat Bunda dan balita dalam gendongannya menghampiri pria itu.. Ah..

Dia melirikku sambil tertawa pelan, “sudah kukatakan padamu. Aku suka anak-anak dan Tuhan selalu punya cara untuk memberiku kejutan.”

Aku hanya menatap dia dalam diam. Tak pernah mengerti, bagaimana bisa ada seorang gadis yang sebegitu bahagia dengan hidupnya yang sangat sangat mengejutkan. Tak pernah mengerti, bagaimana bisa ada seorang gadis yang sanggup menertawakan kejutan hidupnya yang seringkali tidak menyenangkan. Oh, gadis. Kenapa jalan hidupmu begitu.. mengejutkan?

Melihatku yang memandangi dia dengan perasaan menyesal, membuatnya tersenyum. Pelan dia berkata, “kejutan Tuhan.. selalu manis, bukan?”

…, aku kehilangan suara.

***

selengkapnya...

Wednesday, January 11, 2012

tentang dia: demensia

Ciputat, 10-11 Januari 2012

were you telling lies?
(on the night before)
was I so unwise?
(on the night before)
when I have you near you were so sincere
treat me like you did the night before..
(The Beatles – The Night Before)

***

Halo, kamu. Apa kabar? Sesungguhnya aku berharap kamu baik-baik saja. Sehat sejahtera. Tapi, entah kenapa, aku justru merasa khawatir padamu. Mungkin ada baiknya kamu pergi berobat ke dokter atau ke rumah sakit. Kudengar dari dia, ada sesuatu yang salah pada isi kepalamu. Membuatku jadi menduga-duga, barangkali kepalamu terbentur sesuatu. Mungkinkah begitu?

Kemarin malam dia menghubungiku. Semalaman namamu disebut berbarengan dengan berbagai jenis binatang. Dia bilang kamu kehilangan logika. Dia mengatakan hal-hal semacam amnesia dan demensia. Jujur saja, aku sulit mengingat kata-kata yang disebut dengan begitu cepat, apalagi separuh berteriak. Kurasa dia sungguhan kesal padamu. Dia bilang, mulanya memang dia tak paham mengapa kamu mengatakan tidak pernah mengenal dia. Tapi, setelah dia pikirkan berulang kali, dia mulai mengerti alasannya. Ya, dia mengerti bahwa kamu hanya ingin menjadi pria bertanggung jawab yang memegang teguh komitmen dalam hidup. Seperti yang dulu kamu katakan kepada dia, bahwa kamu hanya ingin setia. Hanya, dia merasa kamu terlalu keji dengan mengatakan tidak pernah mengenalnya. Padahal bukan satu-dua hari kamu menghabiskan waktu bersama dia. Padahal kamu sendiri yang bilang bahwa kalian adalah sepasang rekan. Untuk bagian itu, aku juga mulai merasa kamu sedikit tak berperasaan. Percayalah, dia bukan tipe perempuan agresif seperti yang sering kamu jumpai mengganggu hidup pribadi pria yang telah berdua. Sekalipun dia memang akan sangat senang jika kamu bilang kalian saling kenal, sekalipun dia memang akan menganggap prasangka tentang keistimewaan hubungan rekan kalian itu benar adanya, tapi aku berani bersumpah dia tidak akan bertindak lebih jauh lagi. Percayalah, dia hanya akan berdiri menatapmu dari jauh sambil tersenyum. Sudah. Atau, begini saja. Seharusnya, jika kamu memang benar-benar berpura-pura tidak mengenal dia, janganlah kamu bilang kamu kenal dengan beberapa teman di sekitar dia. Sungguh, tak perlu menjadi dia, bahkan aku sendiripun menahan amarah ketika mendengar itu.

Kamu tahu? Dia bahkan selalu menganggapmu sebagai cetak biru yang telah Tuhan curi dari dalam kepala dia. Ah, sungguh. Sedih sekali rasanya ketika mendengar dia bilang, Tuhan telah mencuri sekeping memori dari dalam kepalamu. Aku hanya berharap, semoga bukan Tuhan yang benar-benar telah mencurinya. Akan lebih baik jika tabu lah yang melakukannya. Atau malah, kamu sendiri yang lupa, setelah menyembunyikannya di tempat rahasia. Tempat yang bahkan sama sekali tidak diketahui oleh istrimu tercinta..

Ya ya, semoga kepingan itu akan segera kamu temukan. Jika tidak, maka kabari aku andai ada hal lain yang memudar dari kepalamu. Aku kenal dengan seorang dokter di bidang itu. Mungkin bisa kuatur pertemuanmu dengannya nanti. Sampai jumpa! :)

***

selengkapnya...

Sunday, December 25, 2011

PATAS

PATAS. Cepat dan terbatas. Puluhan tahun menyelami dunia perpatasan, aku menjadi saksi sebuah peradaban. Peradaban di atas patas. Pernahkah kauperhatikan, peradaban yang aku bicarakan?

***

Matahari makin terasa menggigit kulit kondektur yang tak henti meneriakkan tempat-tempat perhentian penumpangnya. Sementara mata si supir kian menyipit. Silau melihat jalanan di hadapannya. Tengah hari yang seharusnya lebih enak dinikmati dengan duduk santai di halaman rumah, atau mungkin lelap di atas kasur busa kualitas rendah, terpaksa harus mereka isi dengan bolak-balik melintasi kota Jakarta. Dua manusia yang usianya sudah di ujung senja. Lihat saja rambut putih yang telah menguasai kepala mereka, ditambah kerutan kulit yang semakin memperjelas usia keduanya. Para kakek yang tak sepantasnya narik patas. Aku pernah mendengar seorang penumpang yang iseng bertanya pada si supir,

“Pak, umurnya berapa?” 

Sambil tetap serius mengemudi, si supir menyahut asal, “waduh, saya lupa!”

Si penumpang terkekeh pelan, kembali bertanya, “enampuluh, ada Pak?”

“Kayaknya lebih, mas!”

“Umur segitu masih nyupir, Pak?” si penumpang terlihat takjub, tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya. Tapi, dapat kulihat kekaguman di kedua matanya. Lantas ia memuji, pujian sungguhan, bukan basa-basi. “Hebat!”

Si supir hanya tertawa.

Kami mulai memasuki terminal bus. Puluhan orang sudah berkerumun di depan taman dekat terminal dan bersiap untuk berebut naik. Beginilah, bus tua yang tetap menjadi idola karena ongkosnya ekstra murah. Cukup membayar dua ribu rupiah kau akan sampai di pinggir luar kota Jakarta. Hanya, untuk dapat menikmati kursi yang sesungguhnya sudah robek di sana-sini, kau harus saling sikut di antara penumpang lain yang juga ingin duduk. Bayaran yang sesuai? Ah, tidak juga! Kau tahu berapa setoran yang harus dibayarkan kedua kakek itu kepada pemilik bus dalam satu hari? Mereka harus memberi tujuh ratus ribu rupiah! Jumlah yang setara dengan tujuh kali bolak-balik kalau bus penuh sesak. Hanya jika penuh sesak. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk satu kali perjalanan kurang lebih dua jam. Belum lagi kalau macet, kalau penumpang sepi, kalau ditilang polisi, dan kalau-kalau yang lainnya.  

“Blok M habis!!! Blok M habis!!! Yang turun lewat depan semua!!!” Suara si kondektur yang serak menggiring penumpang di atas patas bergerak menuju pintu depan. Satu-dua penumpang yang ingin naik mulai melompat lewat pintu belakang. Sebagian menyerbu pintu depan. Saling dorong di depan pintu selalu terjadi di saat-saat seperti ini. Semua ingin duduk. Tak ada lagi istilah ladies first. Mungkin karena pengaruh emansipasi wanita yang sering digaungkan itu.

“Yang turun dulu!!! Yang turun dulu!!!” Si kondektur berteriak-teriak dengan frustasi. Namun, tak satupun acuh pada teriakan itu. Semua sibuk saling dorong, saling sikut. Kadang aku khawatir ada tangan-tangan pencari kesempatan di kerumunan itu. Tapi tampaknya hanya aku yang khawatir. Pedagang minuman di pinggir taman cekikikan melihat itu. Pengamen dan preman-preman di situ pun ikut cekikikan, kadang mengeluarkan celetukan-celetukan iseng.

“Ayo semangat! Semangat!”
“Tuh, di belakang ada bus lagi!”
“Awas kakinya ketuker!!”

Tak sampai sepuluh menit, semua penumpang telah memenuhi patas. Malah ada pula yang berdiri, tak kebagian kursi. Penumpang yang baru turun tampak bersungut-sungut karena dandanan mereka berantakan. Mengumpat pada penumpang beringas yang naik barusan. Mereka lupa bahwa mereka pun sama tiap kali akan naik patas idola itu. Beringas.

Si kondektur tampak memberi beberapa lembar ribuan ke preman di situ. Istilahnya, uang keamanan. Tak menunggu lama, si supir segera menginjak gas lagi. Siap meninggalkan terminal dan berangkat menuju pinggiran kota Jakarta. Si kondektur sigap meminta ongkos para penumpang.

“Ya, permisi bapak-ibu-tuan-nyonya-kakak sekalian. Lapar, Pak. Lapar, Bu. Lapar, Tuan. Lapar, Nyonya. Kami di sini mau ngamen, Tuan. Mau ngamen, Nyonya. Daripada nodong, nyuri, atau jual narkoba. Lebih baik kami jual suara...”

Ahh, ini dia yang tak kusuka. Sekumpulan anak punk jalanan yang berpakaian belel dan tak jelas modelnya. Aroma tubuhnya sangat khas. Campuran antara bau keringat, bau sengatan matahari, ditambah minus mandi berhari-hari: sempurna! Kulihat penumpang yang mual tampangnya. Mungkin sejujurnya ingin menutup hidung mereka, tapi takut menyinggung anak-anak punk tersebut. Mana tahu mereka mengantongi pisau lipat atau semacamnya.

Si kondektur masih menyusup-nyusup di antara anak-anak punk dan para penumpang yang berjejalan, mengumpulkan lembar demi lembar uang ribuan, diiringi suara telapak tangan diadu berikut nyanyian parau yang makin bikin panas suasana di dalam patas. Patas tersendat di lampu merah. Antrian yang bikin macet. Oh, bukan. Tepatnya lebih ke macet yang bikin antrian panjang kendaraan sebelum lampu merah. Kulihat salah satu penumpang menghela napasnya. Mungkin sudah hapal dengan skenario perjalanan patas ini. Macet di lampu merah pertanda macet sampai entah di mana. Mungkin sampai di tujuan akhir sana. Jika demikian, maka tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah dan berharap macet kali itu tak akan terlalu lama.

“Ya, demikianlah nyanyian kami, tuan dan nyonya, maaf bila kami mengganggu kenyamanan anda. Terima kasih atas bunga-bunga sosial yang anda berikan, ikhlas dari anda, halal bagi kami...”

Salah satu anak punk itu lantas ganti menyusup di antara para penumpang yang tak kebagian duduk, menengadahkan tangan kumalnya ke depan muka penumpang. Sementara yang lain lanjut bernyanyi parau sambil tepuk tangan dan si kondektur sudah bergelantungan lagi di pintu depan. Entah karena merasa terintimidasi oleh tatapan mengancam si peminta bunga-bunga sosial atau memang betul merasa kasihan, tak sedikit penumpang yang menjatuhkan receh di telapak tangan kumal si anak punk. Bikin mereka merasa cukup puas dan segera turun dari patas. Kulihat beberapa penumpang yang berdiri di sekitar mereka tadi cepat-cepat bernapas lega. Tampak bersyukur akhirnya hidung mereka terbebas dari aroma yang bikin mual.

Keheningan tak pernah berlangsung lama di dalam patas. Menit-menit berikutnya, secara bergantian, muncul penjual kacang dan permen jahe yang meletakkan dagangan mereka secara paksa di pangkuan penumpang yang kebagian kursi. Ada yang buru-buru memejamkan mata, pura-pura tidur agar si penjual tak meletakkan barang dagangan di pangkuan mereka. Ada yang terang-terangan menolak. Tapi, ada juga yang membiarkan si penjual meletakkan dagangannya di pangkuan mereka. Mungkin tak tega menolak. Tak berapa lama, giliran penjual tisu. Terakhir, penjual koran yang mengobral koran dagangannya karena hari mulai menjelang sore. Semua koran dihargai seribu rupiah saja. Sungguh kasihan, harga yang sudah sedemikian murah pun tetap tak membuat para penumpang tergerak untuk membeli. Hanya seorang bapak paruh baya yang membeli satu buah. Itupun cuma dibaca sekilas sebelum akhirnya koran tersebut ia jadikan kipas karena kebagian kursi di bagian yang tak berjendela.

Perbatasan kota akhirnya kami lewati setelah menempuh satu setengah jam perjalanan. Belum, ini belum selesai. Tujuan akhir masih lumayan jauh. Penumpang yang duduk banyak yang terlelap. Sementara yang berdiri sibuk melirik kanan-kiri, berharap ada yang turun dan mereka bisa mengistirahatkan kaki yang tentunya mulai terasa pegal.

Aku terbatuk satu kali. Si supir tetap memacu. Aku terbatuk lagi. Mesin patas mati sebentar. Patas terguncang sedikit. Terdengar jerit-jerit tertahan di dalam patas. Penumpang yang lelap bangun karena terbentur kursi di depannya. Penumpang yang berdiri lekas mencengkram erat besi di langit-langit patas. Beberapa yang kurang tinggi berpegangan pada sandaran kursi. Si supir menghidupkan mesin lagi. Beruntung, si mesin tua mau dipaksa kerja lagi. Ada desah lega dari mulut para penumpang. Mereka tak melihat raut kekhawatiran di wajah supir dan kondektur patas. Khawatir patas akan mogok seperti hari yang sudah-sudah kalau si mesin sedang kumat.

Aku mulai terbatuk-batuk lagi. Deru mesin semakin terdengar mengaduh. Seakan letih dipaksa berlari. Asap kehitaman keluar dari pantat patas. Bau mesin meruap dengan cepat. Para penumpang mulai panik, menoleh kiri-kanan. Tampak takut mesin akan meledak. Beberapa segera menutup hidung mereka. Si supir masih memaksa mesin untuk kerja.

“Pak, udah, Pak!” Seorang kondektur dari koantas bima yang sejajar dengan kami berseru dengan tampang prihatin. Ia mengibaskan tangan ke depan hidungnya, “mesinnya udah bau, Pak!!”

Si supir menoleh. Aku tahu dalam hati ia setuju dengan si kondektur itu. Tapi, apa daya. Kami memang belum sampai di tujuan akhir. Tentu penumpang akan kesal sekali jika harus menyambung angkot agar sampai di tujuan akhir.

“Woi, Pak! Berasap tuh, Pak!” Seorang pengendara motor ikut meneriaki si supir.

Sungguh, aku benar-benar tak tega melihat wajah si supir dan kondekturnya. Para penumpang mulai rewel dan malah minta diturunkan. Aku makin berusaha untuk melaju meski susah. Aku malah batuk hebat sebelum akhirnya mesin mati total. Asap keluar makin banyak dan baunya kian tak tertahankan. Si supir menoleh ke rekannya, kondektur di pintu yang akhirnya meminta semua penumpang turun. Beberapa lumayan kesal, tapi yang lain justru merasa kasihan pada sepasang kakek itu. Seorang ibu malah sempat berhenti sebentar sebelum turun, “Mogok ya, Pak?” katanya dengan nada prihatin yang tulus.

Si supir tersenyum getir, mungkin teringat pada setoran yang bakal berpindah ke bengkel mobil, lantas mengangguk pelan. “Iya, maaf ya, Bu.”

Ahh, sungguh, aku merasa bersalah karena tak lagi sekuat dulu. Ya, aku memang sebuah patas yang tak lagi cepat, sebuah patas yang hanya meninggalkan keterbatasan dalam jejak.

***

Patas. Tak lagi cepat meski semakin terbatas. Puluhan tahun aku menjadi saksi sebuah peradaban di atas patas. Pernahkah kau perhatikan peradaban yang kubicarakan? Perhatikanlah! Sebelum aku dilepas satu per satu dan dijual ke pengepul besi rongsokan.

***

Ciputat, Maret 2011.

selengkapnya...

Monday, November 7, 2011

Jumat Kiamat

Ciputat, 06-07 November 2011

Aku telah mati pada hari kiamat.

***

Dia memandangi selembar buletin agama yang baru saja ia dapatkan dari seorang pria berbaju koko putih yang sudah kumal. Selembar buletin yang terasa mengusik pikirannya. Dia baca lagi judulnya yang dicetak dengan huruf kapital ekstra besar:

KIAMAT DATANG PADA HARI JUMAT

Sejujurnya, dia enggan membaca seluruh isi buletin tersebut. Merasa percuma. Toh, sudah sejak lama ia memang percaya bahwa kiamat datang pada hari Jumat. Sejak kiamat berkunjung padanya. Bertahun-tahun lalu. Kiamat yang membunuh jiwanya. Jiwa yang bahkan belum sempat tumbuh.

Hari itu, hari Jumat. Dia masih berseragam putih-abuabu. Duduk mengerjakan PR dengan serius. Dia yang terlalu tak acuh untuk menyadari bahwa lelaki yang berlutut di hadapannya bersungguh-sungguh. Dia melirik lelaki itu dengan tatapan jengah. Hari itu dia sedang tak mau diganggu. Sebuah keinginan fatal yang dikabulkan Tuhan. Selamanya dia akan tidak terganggu. Istirahat dalam damai.

Lelaki yang berlutut di hadapannya, berusaha menggenggam tangannya. Usaha si lelaki terhenti ketika berkali-kali dia menepis tangan lelaki itu. Dia juga menghadiahi lelaki itu sebuah pelototan tajam. Seakan dia akan menelan lelaki itu hidup-hidup jika si lelaki tak segera beranjak dari hadapannya.

Lelaki itu tersenyum, lantas berbisik pelan, “Be mine. Be my lover. Would you? 

Dia berusaha mencerna kalimat yang keluar dari mulut si lelaki. Memastikan bahwa sepasang telinganya memang tidak salah dengar. Lover? Sebuah kata yang terlalu absurd untuk ia dengar dari mulut lelaki yang selama tiga tahun ini menjadi teman kelahinya di sekolah. Dia tertawa. Mencaci si lelaki, memaksanya untuk pergi.

“Gue lagi ngga mau diganggu, you know..”

Tapi, si lelaki bergeming.

Be mine. Be my lover. Would you?” sekali lagi, si lelaki mengulang kalimatnya.

Dia diam cukup lama kali ini. Tapi terlalu sebentar untuk pengambilan sebuah keputusan fatal. Dia tak menampik bahwa dia sungguh jatuh hati pada lelaki di hadapannya itu. Lelaki yang selalu ada untuknya selama tiga tahun. Lelaki yang memiliki frekuensi otak yang sama dengannya. Lelaki itu bagai sebuah antena baginya, sementara dia adalah radionya. Tanpa lelaki itu, dia tak bisa bersuara. Tanpa dia, lelaki itu tak berarti apa-apa. Hanya, dia merasa tahu bahwa si lelaki hanya main-main saat itu. Lagipula, komitmen mereka sudah jelas: tak mungkin jadi sepasang kekasih, kecuali hanya kau yang tersisa di dunia. Komitmen anak sekolah ingusan yang tak paham betapa sebuah cinta sungguh langka di dunia. Betapa sebuah cinta sejati hanya ada satu di dunia.

Please, gue lagi ngga mau diganggu.”

Kini giliran lelaki itu yang diam cukup lama. Memandangi dia yang berwajah tak bersahabat. Lelaki itu lalu tertawa, berdiri dan menepuk kepala dia pelan. Dia kembali sibuk dengan PR nya. Tak menyadari, sebuah kiamat kecil baru saja terjadi.

Hari itu, hari Jumat. Dia tergesa kembali ke kelasnya. Dia mendapat kabar buruk. Katanya ada yang menyatakan cinta di kelasnya. Lalu, sebuah sambaran hebat menghajarnya di depan pintu kelas. Dia tak mampu berbuat apa-apa. Cuma bisa memandangi si lelaki, yang pada hari Jumat berminggu-minggu lalu berlutut di hadapannya, sedang memberikan sekuntum bunga mawar merah pada seorang gadis. Gadis yang tak asing bagi dia. Seorang sahabat dari masa lalu. Sahabat.

Dia merasa lututnya bergetar hebat. Seolah kehilangan daya untuk menopang tubuhnya. Dia tahu, dia menangis meski tak kasat mata. Air matanya tumpah meski tak terlihat sama sekali. Dia berbalik, melangkah cepat menuju entah. Dia hanya ingin enyah secepatnya dari tempat terkutuk itu. Hari itu, hari Jumat. Baginya, kejadian itu adalah sebuah kiamat. Pada hari itu, jiwanya mati. Tersambar petir yang begitu dahsyat: menyaksikan lelakinya menjadi kekasih dari sahabatnya sendiri. Hebat...

Dia meremas buletin agama yang sukses membawanya kembali ke hari kiamatnya. Hari kematian jiwanya. Hari yang membuatnya enggan mengikuti arus waktu. Hari yang menghancurkan segalanya. Hari yang membuatnya merasa, hidup sendiri adalah hak setiap manusia. Dia tak mau tersakiti lagi. Dilemparnya gumpalan kertas itu ke tong sampah di sebelah kursi halte yang dia duduki. Lantas dia berdiri, menghentikan sebuah taksi.

***

“Dek, tadi ada undangan dari temenmu tuh.. aku taruh di meja riasmu.”

Dia melepas sepatu. Bergegas ke kamarnya. Sebuah undangan selalu membuatnya berdebar-debar. Membuatnya jadi bertanya-tanya sendiri, kapan namanya akan tercetak pada sebuah undangan pernikahan?

Sebuah undangan berwarna cokelat dengan balutan pita merah marun tergeletak di atas meja riasnya. Dia meraih undangan itu, membolak-baliknya sebentar. Lalu, dia membaca nama mempelainya. Mendadak kepalanya terasa berputar. Kepingan memori masa SMA nya muncul satu per satu. Dia melirik kalender kecil di sebelah meja riasnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Berharap kali ini setidaknya akan ada yang berbeda... 

NOVEMBER 2011
JUMAT
11

Be mine. Be my lover. Would you?

***

selengkapnya...

Saturday, November 5, 2011

suami orang: tabu

Ciputat, 5 November 2011

Aku bermimpi, kau dan aku mati terbunuh tabu.

***

“Aku mencintai kamu.”

Satu hari kau katakan itu padanya. Saat itu, nyaris tengah malam. Kalian duduk di kolong jalan layang. Jalanan begitu lengang. Hanya temaram lampu jalan yang menemani kalian. Kau yang kata orang bajingan, nyatanya mengatakan itu tanpa menggenggam tangannya. Ah, bahkan kau hampir tidak pernah menyentuhnya. Kaubilang dia terlalu berharga untuk dikotori oleh tangan-tangan berpeluhmu. Kau hanya menatap matanya. Sepasang mata yang bikin dia bertanya-tanya di dalam kepala, cinta seperti apa yang kaumaksudkan?

Apakah seperti cinta dalam kisah-kisah roman klasik? Hingga kalian harus mati hanya untuk bahagia berdua di alam sana? Apakah seperti cinta dalam negeri dongeng? Hingga semesta membela kalian habis-habisan dan menghilangkan semua penghalang lalu hidup bahagia selamanya?

“Cinta seperti apa.. yang kaumaksudkan?” Dia akhirnya meludahkan isi kepalanya. Dia yang entah sejak kapan memang telah ragu padamu. Kau yang kata orang, berandalan.

Kau diam sesaat. Mengalihkan pandangan pada kekosongan jalan. Andai jalanan itu akan tetap begitu selamanya, pikirmu saat itu. Kosong tanpa kendaraan yang lalu lalang. Kosong. Agar kaubisa menyebranginya tanpa takut disambar mobil yang kebut-kebutan. Andai..

“Cinta yang sederhana. Cinta yang hadir begitu saja. Cinta yang tidak dipaksa. Cinta yang tak peduli apa-apa. Tak peduli siapa-siapa. Tak peduli pada kata-kata yang menusuk telinga. Cinta yang..tak akan pernah mati. Cinta yang akan tetap ada meski kau dan aku tak lagi bersama..”

Hening berkuasa setelah kaututup lagi mulutmu rapat-rapat. Masih memandangi kekosongan jalan. Kau tak pernah merayunya. Sama sekali tidak pernah. Dia tergugu karenanya. Dia tahu, itu bukan rayuan. Dia tahu, itu sungguhan. Dia tahu, karena apa yang kaukatakan telah lama dibisikkan oleh hatinya. Perasaan yang sama dengan apa yang dia rasakan.

Ada aliran hangat dari matanya. Dari sepasang mata yang kini memandangimu lekat-lekat. Sungguh ingin dia memeluk tubuhmu, rebah sebentar dalam bidang dadamu. Menjadi milikmu. Memilikimu. Tapi, dia tahu, kau akan menolak. Sama seperti hari yang sudah-sudah. Seperti apa yang kaukatakan dulu:

Kau terlalu berharga untuk dikotori oleh tanganku yang berpeluh. Kau berbeda. Kau tak boleh ternoda. Kau harus terjaga hingga tiba waktunya seorang pria meminangmu. Seorang pria lajang dengan pakaian wangi, kendaraan bersih, dan lebih dari sanggup untuk membelikanmu segalanya. Bukan aku. Lelaki pekerja serabutan yang bahkan..

Kita memang tak akan bersama, bukan? Kita memang tak mungkin ada, bukan?” Suaranya mengusir hening yang tak kausuka. Suara yang malah terasa lebih menyiksa dari hening yang tak kausuka. Kau masih memandangi jalan. Masih berharap jalan itu akan kosong selamanya. Hanya berharap.

Kita sudah lama telah tiada. Bukan kau yang membunuhnya. Bukan juga aku yang membunuhnya. Tapi, tabu..” Kau menoleh padanya, merekam wajah yang mungkin tak akan pernah bisa kaulihat lagi, sungguh ingin kaususutkan aliran dari matanya itu. Memintanya tersenyum, atau bahkan tertawa. Agar wajah bahagia itulah yang selamanya akan kauingat. Bukan.. airmata.

“Kuharap.. kita bahagia di alam sana.”

Dia tersenyum. Mengusap pipinya yang basah, lalu berdiri, berpaling dan melangkah pergi. Perempuan pertama dan satu-satunya yang meninggalkanmu sendiri di kolong jalan layang itu. Kolong jalan layang yang sama seperti saat pertama kauberjumpa dengannya. Perempuan yang kauanggap sebagai hukuman dari Tuhan untukmu. Untuk dirimu yang selalu menganggap perempuan sebagai sebuah kesenangan semata. Perempuan yang mengajarimu tentang arti cinta. Perempuan yang.. sungguh kaucinta.

Kau terlalu berharga untuk dikotori oleh tanganku yang berpeluh. Kau berbeda. Kau tak boleh ternoda. Kau harus terjaga hingga tiba waktunya seorang pria meminangmu. Seorang pria lajang dengan pakaian wangi, kendaraan bersih, dan lebih dari sanggup untuk membelikanmu segalanya. Bukan aku. Lelaki pekerja serabutan yang bahkan.. telah berkeluarga. 

***

selengkapnya...