Posts

matahari dan bumi

Aku adalah matahari. Kau adalah bumi. Kau berputar di sekelilingku. Aku telah menjadi porosmu selama jutaan tahun. Tidakkah kausadari itu? Memang. Kadang sebagian dari dirimu tak melihat keberadaanku. Kau tahu kenapa? Itu karena kau seringkali membelakangi diriku. Memunggungi aku. Aku, satu-satunya yang tanpa letih terus menyinarimu. Tak peduli meski kau tak melihatku. Tak peduli meski kau tak mengacuhkanku. Aku akan terus bersinar untukmu. Menghangatkanmu dengan kasihku. Mungkin, kau cukup menahan amarah ketika cahayaku terasa terlalu menusuk. Bukan lagi hangat tapi justru panas menyengat. Maaf, bukan maksudku untuk menyakitimu. Bukan maksudku untuk bersikap terlalu protektif padamu. Kau tahu, aku hanya takut kau akan mati beku jika tak ada aku di dekatmu. Aku takut jika sedetik saja aku mengurangi cahayaku, jika sedetik saja aku berhenti bersinar, kau akan berhenti bergerak. Berubah pucat. Tak ada kehidupan... Ah! Sungguh! Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku berdi...

reinkarnasi hati

22 Oktober 2010 22.30 WIB Malam kian larut. Tapi saya benar-benar belum mengantuk. Bahkan sakit punggung yang melanda tak menyurutkan niat saya untuk tetap terjaga. Malam ini begitu berbeda. Ada sesuatu yang berbeda. Ya, ada yang menggeliat di dalam dada saya. Sesuatu yang... baru. Masih lekat dalam ingatan saya, hari ketika penghuni dada ini tiada. Si kecil yang membimbing hidup saya tanpa pamrih. Hampir setahun saya hidup tanpa rasa karenanya. Sampai beberapa waktu lalu, saya merasakan lagi satu kehidupan di dalam dada. Muncul di tempat penghuni lamanya bernaung. Reinkarnasi yang indah. Saya tak pernah menyadari keberadaan si kecil yang baru sebelumnya. Namun, bisikannya akurat. Sangat akurat. Pelan tapi tepat. Seakan ia berteriak pada saya, menyadarkan saya bahwa dia ada. Si kecil yang berteriak: “Hei, aku kembali!” Si kecil kini merangkak berkeliling rumahnya sambil tertawa-tawa bahagia. Sehat. Sehat sekali. Saya akan membiarkannya menikmati hidup baru yang lebih baik. Bia...

tentang dia: nyanyian

Kerongkonganku tiba-tiba mengering ketika suara gitar itu terdengar. Nyanyianmu yang serak membuat jantungku bergeser dari posisinya semula. Aku melirik gadis itu. Dia diam tak bersuara. Lagu itu, aku hapal betul tiap bait nadanya, satu lagu yang dulu menimbulkan jutaan tanda tanya dalam benaknya. Benak dia, si gadis yang kauberi lagu itu. Apa dulu katamu? Tak sengaja ya? Nyanyianmu kian nyaring terdengar. Dia masih tak menunjukkan ekspresi apa-apa, selain sedetik keterkejutan saat pertama mendengar lagu itu kaunyanyikan tadi. Kini, wajahnya masih dingin dan sulit kuterka maknanya. Sungguh, rasanya aku ingin melemparmu dengan sepatu kets-ku. Mungkin juga menyumpal mulutmu dengan salah satu kaus kakiku. Aku tak habis pikir, kenapa pula kaunyanyikan lagu itu? Bukankah sudah jelas bahwa dia bersusah payah menganggap ketololannya dekat denganmu itu tak pernah terjadi? Tidakkah kautahu, sebait nyanyianmu itu membangkitkan lagi apa yang berusaha dia kubur hidup-hidup? Tidakkah kautahu? ...

suami orang: aku pun begitu

Cinta itu suci, bukan? Tak peduli pada apapun, cinta itu akan tetap suci. Meski kau jatuh cinta pada mereka yang tak seharusnya kau cinta. Meski kau jatuh cinta pada mereka yang telah berkeluarga. Pada suami orang. Aku tahu, kau akan berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa kali itu kau salah. Bahwa perasaan itu salah. Bahwa cinta itu salah. Kau akan berusaha mengelak. Menolak hatimu yang menjerit-jerit ketika melihat dia lewat di depanmu. Memaki jantungmu yang terpacu di luar batas normal ketika tak sengaja ia mendapati matamu memandanginya. Bahkan kau hendak mengusir otakmu ke luar ketika diam-diam mencuri senyumnya. Menyembunyikannya di salah satu lipatan otakmu. Senyum yang sejujurnya memang sempat membuat lututmu hilang tenaga juga. Senyum dari wajah dengan garis kedewasaan yang nyata, yang jauh dari usiamu yang masih teramat muda. Setidaknya, muda bagi dia. Berapa usiamu? Delapan belas? Sembilan belas? Aku tahu, kau nyaris gila ketika sadar usahamu itu sia-sia. Lantas, kau ...

tentang dia: satu selera

sudah lama aku tidak melihat gadis itu. tiba-tiba saja dia muncul lagi, mengetuk jendela kamarku pada tengah malam. dia merangkak masuk dari sana. kuambilkan secangkir kopi panas untuknya. dia duduk di kasurku, tersenyum dengan wajah duka. ada apa? dia mendengus, tertawa sebentar lalu mulai bercerita, "aku heran..heran sekali.." katanya, "baru saja kuberniat mengenal seseorang lebih dekat, tiba-tiba aku teringat pada sosok seorang perempuan.." perempuan? perempuan mana? aku duduk di kursi kerjaku. "kamu ingat kan, salesman yang dulu pernah kuceritakan?" aku mengangguk. jadi..masihkah ini tentang kamu? "nah, perempuan ini adalah si pembeli produk salesman itu!" oh..jadi kali ini tentang pelangganmu itu.. "manusia yang baru saja ingin kukenal lebih dekat ini ternyata..dulunya ternyata.." dia menarik napas, "ternyata pilihan kedua! jadi sebelum si salesman itu, sudah ada manusia ini..hanya saja daganganny...

tentang dia: pilihanmu.

dia sangat murka ketika kamu tiba-tiba memilih. satu nama yang ternyata bukan dia. tapi si perempuan. murkanya kini sudah mereda. otaknya kembali dikuasai logika. dia paham. paham sekali kenapa kamu memilih si perempuan. mungkin kamu memang tak suka gadis seperti dia. gadis dengan pikiran terbuka. gadis dengan tingkah jenaka. gadis yang haus ilmu. gadis yang menolak mentah-mentah guyonan tentang dapur, sumur dan kasur. gadis yang akan mengutamakan mimpi-mimpinya ketimbang jadi pendampingmu. gadis yang menuliskan "menjadi ibu" di urutan paling bawah dalam tujuan hidup. dia paham kenapa kamu memilih si perempuan. perempuan yang siap menjadi pengasuh anak-anakmu kelak. secepat yang kamu mau. sudah. jangan ganggu dia lagi. dan jangan temui aku lagi. *** bagaimana caranya kumenghilangkan pacarmu? bagaimana caranya merebut lagi hatimu? setelah sekian lama kaumengisi hari-hariku kau yang selama ini selalu kutuju hangat pelukmu membekas dala...

untitled: cerita kita.

satu cerita dituliskan untuk kita dengan pena merah muda disemprotkan parfum aroma surga judulnya: CINTA.