Posts

Tentang Dia: Cukup (?)

Ciputat - Jombang, 24 November 2014 – 21 Februari 2018 Aku ingin jatuh cinta. Aku ingin jatuh cinta yang tak bisa dijelaskan dengan biologi, ataupun kimia. Aku hanya ingin jatuh cinta. *** Gadis bermata sendu itu berdiri di hadapanku dengan senyuman yang melengkung sempurna dari satu telinga ke telinga lainnya. Gaun putih selutut yang dia kenakan bergerak lembut tertiup angin. Dia lantas duduk di sebelahku tanpa melepaskan jaket denimnya. Aku masih takjub dengan gelora keceriannya yang berlebihan hari ini. Bukannya aku tak senang. Sesungguhnya, menerima ajakan gadis ini untuk minum kopi di kafe seperti sekarang memang menyenangkan. Tapi, terkadang tak berujung menyenangkan. Karena biasanya dia datang padaku dengan kebimbangan atau kesedihan permanen yang tak berujung. “Jangan melihatku seperti itu.” Kata-kata pertamanya padaku meluncur diikuti kekehan pelan, “hari ini aku sungguh-sungguh sedang bersuka cita.” Siapa lagi kali ini? Laki-laki brengsek mana lagi ya...

Tentang Kita: Maaf.

Jombang, 21 September 2017 Tiba-tiba, radio di sudut kamar memutar lagu usang yang liriknya serasa menusuk-nusuk telinga, menusuk-nusuk sesuatu di dalam dada: Chicago – Hard to Say I’m Sorry . *** Aku melirik jam di sebelah laptopku. Pukul 1 dini hari. Kupijit kedua alis mataku kuat-kuat sebelum memutuskan untuk menyeduh kopi lagi. Ini sudah gelas kopi yang ketiga dalam empat jam belakangan. Pekerja lepas berpenghasilan pas-pasan sepertiku, terkadang harus menerima dua-tiga pekerjaan sekaligus demi menyokong kebutuhan generasi millennial untuk eksis dalam pergaulan sana-sini. Mulai dari menulis artikel, hingga mengerjakan ilustrasi buku, semua kuterima tanpa memperhitungkan jam tidurku yang semakin terpotong. Lalu, tanpa sadar, aku kini bersahabat dengan kopi. Atau mungkin lebih tepat jika kukatakan, aku mulai mengenal kopi setelah dia memutuskan untuk tak lagi menemaniku setiap malam. Ah, betapa aku merindukan e-mail­ – e-mail darinya. Tapi, seperti wejangan para tetua ...

Kabisat.

Ciputat, 29 Februari 2016 It was nice to, nice to know ya, let's do it again How we did it on a one night stand Boy, I wanna be more than a friend to ya Nice to, nice to know ya, let's do it again How we did it on a one night stand Boy, I wanna be more than a friend to ya Let's do it again "Do It Again" (Pia Mia feat. Chris Brown & Tyga) *** Hai. Hari ini Saya sebetulnya sedang tidak ingin menulis cerita. Tapi, momen Kabisat tidak datang setiap tahun, jadi Saya cuma ingin menulis saja hari ini. hahaha. Hmm. Hari ini Saya mau menulis fakta saja, tentang hujan yang seharian begitu setia menemani. Saya sebetulnya tidak terlalu suka berkendara saat hujan apalagi jika hujan badai apalagi jika ditambah petir yang menggelegar. Seram. Hii. Tapi, Saya selalu suka berkendara setelah hujan mereda atau sekalian setelah hujan telah tiada. Apalagi ketika seluruh lampu-lampu di jalanan telah dinyalakan. Saya selalu merasa sinar lampu yang terpan...

Sepotong Kue Manis

Ciputat, 12 – 14 Februari 2016 “Talk to me baby I’m going blind from this sweet, sweet craving Let’s lose our minds and go fucking crazy Ah yayayaya I keep on hoping we’ll eat cake by the ocean..” (DNCE – Cake By The Ocean) *** Sepotong Cheese Cake kusuapkan ke dalam mulut. Sementara perempuan di hadapanku menyesap teh peppermint dari cangkirnya sambil tetap membaca novel yang dipegang olehnya. Hari ini dia membaca ulang Pride and Prejudice dengan khusyuk. Aku suka melihat ekspresi wajahnya saat membaca. Rambut ikalnya yang tak pernah melebihi leher itu akan menjuntai sedikit saat dia menunduk menyusuri kalimat-kalimat di dalam buku. Ah, bahkan aku juga suka ekspresi wajahnya saat dia menolak memakan kue dari sendokku. Wajahnya akan merengut dan dia akan menggeleng tiap kali aku mencoba menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. “Aku ngga suka manis.” Begitu selalu katanya. Dulu. Dulu sekali aku pernah menanyakan alasannya. Alasan kenapa dia tak suka m...

Tentang Dia: Pulang?

Pamulang, 17 - 28 Agustus 2015 Seburuk-buruknya rumah, pulang akan selalu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Tetapi, pastikan bahwa tempat yang selama ini kita anggap rumah, tidak menjadi sengketa dengan orang lain. Pastikan ya? *** Langit malam terlihat cerah sekali hari ini. Meskipun berkali-kali aku harus merapatkan jaketku tinggi-tinggi hingga ke leher, tapi pemandangan langit malam yang diramaikan oleh jutaan titik kecil bintang itu rasanya cukup untuk melunasi dinginnya suasana di warung makan antah berantah ini. Ya, warung makan antah berantah. Semua berawal ketika dia tiba-tiba muncul di depan rumah kosku sore tadi. Tanpa mengizinkanku bertanya apa-apa, dia memintaku berganti dengan pakaian yang lebih hangat dan memaksaku membawa jaket. Lalu seperti biasa, aku menjadi supir yang tak tahu arah tujuan sementara dia dengan santai dan sangat terlatih, karena sudah sering mengerjaiku dengan penculikan supir seperti ini, memberi petunjuk jalan bagiku....

Cincin di Saku Celana

Ciputat, 28 April 2015 Aku ingin berhenti berlari. Maukah kau menghentikan kakiku?  *** Sudah hampir satu jam aku berdiri di depan cermin. Tak terhitung sudah berapa kali pula aku merapikan rambut dan setelanku. Hari ini adalah hari yang sangat penting bagiku, sepenting sebuah cincin emas yang tersimpan dalam kotak beludru biru tua di saku celanaku. Cincin yang akan segera kupersembahkan pada perempuan yang akan kutemui sebentar lagi. Semua berawal dari pertemuan terakhir kami, sekitar satu bulan yang lalu. Aku bahkan masih ingat saat itu dia memakai gaun putih pendek selutut bermotif titik titik cokelat halus, tak lupa dia juga memakai jaket jins biru kesukaannya. Dia duduk tersenyum ramah sambil menyeruput es kopi kedua di mejanya. Aku malu sekali karena datang terlambat, tambahan lagi dia tak marah padaku. Maka, aku memilih mengutuk diriku sendiri dibanding kemacetan jalanan ibukota . Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, kami membicarakan pekerjaan masing...

M E N A N G I S

Image
Ciputat, 15 Februari 2015 Menjelang petang. Hujan. Jalur bebas hambatan. Lagu-lagu sendu dinyanyikan oleh pengamen berbola mata buatan. Air mataku seketika ingin berlari keluar, ingin bermain bersama hujan. *** Tiba-tiba aku ingin menangis. Meski aku tak yakin untuk apa (atau siapa?) aku ingin menangis. Mungkin ini karena pengaruh hujan di luar sana. Mungkin karena hujan, lampu oranye jalur bebas hambatan yang temaram, ditambah dengan lagu-lagu sendu yang dinyanyikan oleh pengamen berbola mata buatan. Entah mana di antara semua itu yang lebih dominan hingga membuatku benar-benar ingin menangis sekarang. Lalu aku ingin meraung. Aku ingin mencaci. Aku ingin mengacak-acak semesta. Meski aku tak yakin untuk apa (atau siapa?) aku ingin melampiaskan segala emosi yang berkecamuk di dada itu. Hingga seperti ada sebuah tombol yang otomatis ditekan, ingatanku mulai memutar sebuah film lama. Potongan-potongan cerita di masa lalu yang bahkan tak ingin kusebut sebagai masa l...