Posts

Lelaki Asing Pada Sebuah Perjalanan Pulang

Ciputat, 27 Juli 2014 Sebuah hadiah ilang tahun terhebat dari Tuhan selama duapuluh tiga tahun ini: mengenal kamu. NB: Sebuah hadiah lain yang juga tak kalah hebat: bertemu Pak Pranoto pada suatu pagi di dalam angkot menuju Ciputat :) *** Pernahkah kau mendengar tentang adanya gaya tarik menarik antara pikiran kita dengan semesta hingga ketika kita memikirkan sesuatu sefokus-fokusnya maka semesta akan mendekatkan apa yang kita pikirkan itu pada kita? Pernahkah kau mendengarnya? Kukira mungkin lebih banyak orang yang menyebut hal semacam itu sebagai sebuah kebetulan . Sore itu, halte bus Transjakarta Harmoni penuh sesak seperti biasanya. Aroma yang meruap di antrian puluhan manusia itu tak lagi bisa kujelaskan dengan kata-kata. Jangan tanya berapa besar keinginanku menanggalkan seluruh pakaian karena pengapnya berada dalam antrian itu. Tapi, aku memutuskan untuk melewati bus yang baru saja tiba setelah melihat tak ada satupun kursi yang tersisa di dalamnya. Bukan ak...

Segumpal Ampas Kopi di Dasar Gelas

Ciputat - Tangerang Selatan, 22 Juli 2014 “Cinta itu seperti kopi hitam. Enak dinikmati selagi panas..”, katamu pelan seraya menatap ke dalam mataku dengan ekspresi yang tak kupahami sama sekali. Apakah kedua ujung bibirmu yang kautarik ke pipi dapat kudeskripsikan sebagai sebuah senyuman? *** Kau embuskan asap rokokmu pelan-pelan dari dalam mulut. Kaulirik jam tangan berantai perak yang diberikan secara cuma-cuma oleh perempuan yang kini lelap di balik punggungmu. Kau tak pernah mengerti kenapa Tuhan bisa memberimu kemampuan memperdaya perempuan sehebat ini. Kau tak tahu mesti kausebut kemampuan ini sebagai berkah atau justru musibah. Perempuan yang tertidur kelelahan di balik punggungmu itu sudah hampir setahun ini kaujadikan kekasih. Entah kekasih yang nomor berapa, kau bahkan tak lagi ingat. Karena ada banyak lagi kekasihmu di luar sana. Perempuan-perempuan yang bagimu terlalu bodoh hingga percaya segala ucapan yang keluar dari mulutmu yang selalu berbau asap rokok...

Tiga Dalam Satu

Ciputat, 28 April 2014 “Tubuhku butuh kamu tapi tak bisa rasa seperti dulu.. rusak sudah aku..” Anji – Berhenti di Kamu *** Detak jarum jam terdengar semakin nyaring seiring malam yang kian hening. Sepasang mata yang kelopaknya membuka dan menutup perlahan itu tampak lelah memandangi langit-langit kamar tidur yang bebercak bocoran air hujan. Sudah seminggu ini gadis itu sakit, menelan apapun sulit, seluruh tubuhnya nyeri jika digerakkan, dan setiap malam dia tak bisa tidur semudah biasanya. Dia berusaha tak mengaitkan sakitnya itu dengan keputusan sang kekasih untuk mengakhiri hubungan mereka. Tidak. Sama sekali tidak. Malam ini, dia sudah terbaring di atas ranjang sejak tigapuluh menit yang lalu. Kepalanya pusing tak tertahankan. Dia hanya ingin tidur. Tetapi, ada yang tak bisa berhenti berdebat di dalam kepalanya. Tiga suara yang berisik itu seolah tak mengizinkan gadis itu untuk segera terlelap. “aku butuh dia!” Tubuh berseru lantang, “aku merindukan setiap ...

Tentang Dia: Layang-layang

Ciputat, 09-18 Januari 2014 Mereka menghiasi angkasa dengan warna-warni menggoda. Tetapi, percayalah sayang, terkadang mereka selalu lebih indah dipandangi saat melayang nun jauh di atas sana.. *** Selamat malam, hai kamu. Sehat sehat saja kan? Aku selalu mendoakan yang terbaik bagi kamu. Sungguh. Terutama karena kini, kamulah yang seharusnya menjaga dia untukku. Kamu.. serius akan menjaganya untukku, bukan? Bisakah kamu berjanji? Hmm? Tahukah kamu, beberapa minggu yang lalu, tak lama setelah kuserahkan dia kepadamu, dia datang kepadaku dengan wajah sayu. Katanya dia bermimpi. Mimpi yang sangat mengerikan. Dia merasa mungkin itu sebuah pertanda. Entahlah, sesungguhnya dia tak begitu percaya pada hal-hal semacam itu tetapi kali ini tiba-tiba dia berpikir demikian. Kurasa, sejak mengenalmu, dia memang jadi sering memikirkan hal-hal yang sebelumnya tak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya. Bukan hantu, bukan. Kamu pikir dia bermimpi tentang hantu? Tentu bukan. D...

PURNAMA

Ketika jatuh cinta, bukalah matamu lebar-lebar! *** Cinta itu membutakan. Begitulah kata sebagian besar orang yang kukenal. Aku lantas menolak jadi buta hingga sebagian besar dari mereka menyebutku Si Picky . Tapi, hal itu tak pernah kuanggap sebagai masalah besar, karena namaku memang Vicky. Jujur saja, hampir duapuluh tujuh tahun hidup di dunia, aku memang belum pernah memiliki kekasih sama sekali. Satu-dua lelaki pernah hinggap dalam garis-garis batang kehidupanku. Tapi, mataku yang terus terbuka lebar dengan cepat menemukan hal-hal yang tak bisa kuterima untuk ada di dalam diri pasanganku. Maka, para lelaki itu berguguran dengan sendirinya. Bukannya aku mencari pasangan yang sempurna, tapi kurasa, aku hanya enggan mengkhianati arsitek kecil dalam diri yang telah membuat cetak biru pasangan hidup untukku. Hanya itu. “Kamu mau sampai kapan sih bertahan untuk ngga punya pacar, Vick? Sini aku kenalin ke teman kantorku.. di kantorku, cowo-cowo nya lumayan loh..” Seorang...

Perjalanan di Atas 100 kilometer.

Image
Ciputat, 17 September-03 November 2013 Aku… jatuh bebas. *** Saat itu pukul sebelas malam, entah sudah berapa banyak markah penunjuk kilometer jalan di jalur bebas hambatan itu kaulewati, tetapi matamu masih terjaga. Kaucoba memejamkan mata, tetapi pikiranmu tak mau berhenti bicara. Pikiranmu sibuk bicara tentang dirimu yang masih saja menjebak diri di masa lalu. Sesungguhnya enggan kauakui bahwa manusia yang memaksamu membuang semua masa lalu itu benar adanya. Buat apa menyimpan mayat perasaan yang tak bisa kauhidupkan sama sekali itu? Kenapa harus takut bergerak maju untuk mencoba jatuh lagi ke lain hati? Kenapa harus takut disakiti? Bukankah jatuh cinta dan patah hati adalah sebuah siklus yang menunjukkan bahwa kau adalah manusia sejati? Buat apa bertahan menjadi sewujud badan yang tak punya hati? Serangan tanda tanya itu membuat kantuk benar-benar enggan hinggap di kedua matamu. Diam-diam kau menyesali pertemuanmu dengan manusia itu. Seharusnya, kau tetap hidup tenteram ...

Mungkin Kita ...

Ciputat, 03-04 September 2013 What am I to you? *** Ponselmu bergetar pelan. Jantungmu meluncur jatuh ketika membaca nama si pengirim pesan yang telah menggetarkan ponselmu itu. Kamu di mana? Lagi apa? Ngopi yuk.. Napasmu terasa berat seperti hari-hari lain ketika manusia itu mengirimkan pesannya. Manusia yang muncul dan hilang sesukanya. Manusia yang sanggup melemparmu ke surga detik ini dan kembali menendangmu ke bumi detik berikutnya. Lalu, di dalam kepalamu akan mulai terjadi perkelahian hebat. Separuh dari pikiranmu mengutuk, mencaci maki, memaksamu untuk mengabaikan pesan itu. Sementara, separuh sisanya terbang melayang-layang dan kepengin segera membalas: Yuk! Di mana? Aku segera datang! Manusia itu sudah berbulan bulan ini mengacaukan pikiranmu. Jenis manusia yang bahkan belum berani kaudefinisikan. Apakah dia termasuk ke dalam golongan teman biasa? Teman dekat? Teman spesial? Atau malah teman senang-senang yang cukup hadir saat satu sama lain saling me...