Posts

Tentang Dia: Jatuh atau.. Menjauh?

Ciputat, 06 Juni 2013 Ada apa di dasar jurang yang tak terlihat sama sekali itu? Hmm? *** Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengan dia. Dia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya, hingga sama sekali tak sempat mengunjungiku. Padahal, aku menanti-nantikan cerita terbaru tentang kamu. Maaf, siapa namamu tadi? Salam kenal.. Tapi, beberapa hari yang lalu, dia akhirnya datang mengunjungiku. Seperti biasa, dia membawa dua kaleng kopi dingin. Lalu, pertanyaan anehnya dilontarkan kepadaku ketika dia sudah duduk di atas tempat tidurku. “Jika kamu dihadapkan pada sebuah jurang, yang dasarnya sama sekali tidak kelihatan, apakah kamu akan melompat jatuh? Atau kamu berbalik arah dan pergi menjauh?” Aku mengangkat bahu. Kutenggak kopi dinginku. Aku tak pernah benar benar merasa dia butuh mendengar jawaban dariku tiap kali pertanyaan aneh meluncur keluar dari mulut mungilnya. Dia menarik nafas dalam dalam dan menekuk lututnya sedemikian hingga akhirnya dia menyan...

Suami Orang: Perpustakaan

Ciputat, 29 Februari 2012 – 30 April 2013 Dia tahu. Semua rahasianya terbongkar ketika matamu tak sengaja berjumpa dengan matanya. Ketika tubuhmu tak sengaja merapat dengan tubuhnya. Ketika kamu tak sengaja berpapasan dengannya di lorong penyimpanan tas itu. Pada suatu siang, di sebuah perpustakaan.. *** Sudah berbulan-bulan dia memperhatikanmu. Kamu yang menurut dia bertampang terlalu garang untuk berada di antara begitu banyak rak buku. Terlalu garang untuk ada di sebuah perpustakaan. Kamu yang selalu datang tepat setelah jam makan siang usai. Kamu yang akan datang dengan tas punggungmu yang besar. Kamu yang telah mencuri salah satu ruang pikirannya berbulan-bulan lalu. Saat itu, dia melihatmu untuk yang pertama kalinya. Kamu yang berseragam lengkap. Setelan hijau tua dengan jahitan pangkat-pangkat yang tidak pernah dia pahami sama sekali. Mulanya dia pikir, kamu pasti hanya tersesat saja sampai di perpustakaan itu. Tapi ternyata tidak. Kamu sungguhan menghampiri pus...

Jam Tangan

Ciputat, 25 Januari 2012 Berapa lama waktu yang kauberikan untukku memilikimu? *** Pria berkemeja rapi dengan celana panjang yang sedikit berbekas lipit sering menarik perhatianku dengan mudahnya. Tak terkecuali pria yang satu itu. Pria yang mudah gugup jika kusentuh sedikit saja bagian tubuhnya. Tapi dia dapat dengan cepat berubah berkuasa saat menarikku ke dalam kamar. Aku suka caranya menanggalkan seluruh pakaiannya dalam setiap sesi panas kami hingga dapat kunikmati kehangatan kulitnya tanpa terhalang serat bahan. Hanya sebuah jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kanannya lah yang akan tersisa. Jam tangan berantai perak yang selalu tampak mengkilap. Hadiah ulang tahun ke empatpuluh lima dariku. Jam tangan kesayangannya. Sejujurnya aku senang sekali dia menepati janjinya untuk terus memakai jam tangan itu saat jam tangan itu kuberikan padanya setahun yang lalu. Tapi jam tangan tetaplah jam tangan. Fungsi utamanya untuk mengingatkan seseorang akan waktu....

tentang dia: tamu undangan

Ciputat, 28 Juli – 28 Agustus 2012 “Going back to the corner where I first saw you Gonna camp in my sleeping bag I’m not gonna move..” (The Script – The Man Who Can’t Be Moved) *** Aku memandangi lapangan basket di hadapanku dengan jutaan tanya merayap dalam kepala. Gedung sekolah ini begitu sepi ditinggal penghuninya yang sedang libur ramadhan, tapi dia malah menculikku ke sini. Pagi tadi, dia datang ke kamarku. Memintaku menemaninya jalan-jalan. Kupikir dia akan membawaku ke taman kota lagi, atau mungkin ke laut, atau ke mana saja tempat yang lebih masuk akal dibanding gedung sekolah SMP. Aku tak mampu menebak isi kepalanya. Apa yang dia ingin nikmati dari sebuah gedung sekolah? Dia duduk di sebelahku dengan mata yang tak bisa diam. Kedua matanya sibuk mengelilingi gedung sekolah yang sepi ini. Lapangan basket, lorong-lorong kelas, masjid, dan entah ke mana lagi matanya berlarian. Sesekali kutangkap sesimpul senyum pada bibirnya. Lama dia menikmati semuanya sendiri. Hingg...

Tanpa Nama

Ciputat, 23 Juli – 28 Agustus 2012 Pernikahan. Sebuah kata yang semestinya menjadi pangkal dari segala kebahagiaan. Menikahi orang yang kaucintai. Menikahi orang yang mencintaimu. Bertahun kebersamaan yang membuat kalian memutuskan untuk menikah. Pernikahan. Memang sudah semestinya bikin semua orang berbahagia. Keluarga, teman, bahkan mungkin ‘mantan’. Namun, bagaimana jika, ada seseorang di luar sana yang tak pernah masuk ke dalam kategori manapun? Bagaimana dengan seseorang itu? Haruskah dia juga merasa bahagia untukmu? Dia, yang tak pernah masuk ke dalam kategori manapun itu, bukan keluarga. Dia tak pernah lagi kauanggap teman. Tetapi, dia juga tak pernah resmi menjadi seorang ‘mantan’. Dia bahkan tak pernah kaujadikan kekasih hati. Dia hadir begitu saja. Mengisi hari-harimu dulu. Bertahun lalu. Saat kalian muda belia. Saat kalian belajar mengenal sebuah rasa yang ternyata memiliki daya magis luar biasa, yang mampu memikat, yang mampu mengikat, siapa saja, di mana saja, kapan ...

Burung

Ciputat, 07 Juli 2012 Di atas pekarangan, beterbangan burung-burung. Mereka milikku. Mereka memilikiku. *** Aku ini burung Yang tak suka untuk dikurung Belenggu tak sanggup cegahku berlalu Simpul hanya akan membuatku semakin jauh kabur Cukup nikmati saja aku menari nari di atas pekaranganmu Bebas Dan tak perlu khawatir aku kan lepas Selama matamu tetap mengawasi sayapku Selama bibirmu tak lupa cara menguncup dan mengalunkan simfoni untuk memanggilku Pulang.

Perawan

Ciputat, 04 Juli 2012 Afeksi berlebih pada sesuatu akan membuat panca indera mu mati rasa… *** Perawan. Sebuah kata yang begitu mudah diucap tapi sulit diungkap. Mungkin, kau hanya akan mengungkapnya pada seseorang yang kaucintai habis-habisan. Kauungkap meski jalinan janji suci sehidup semati belum kalian lakukan. Terserah. Tapi aku, dan mungkin jutaan perempuan lain di luar sana ingin tetap menyimpannya secara hati-hati. Sampai tiba waktunya nanti, janji suci sehidup semati digaungkan bersama sang kekasih. Dan kami ini, memiliki alasannya sendiri-sendiri. Mungkin karena takut dihamili. Mungkin karena takut dilaknat Ilahi. Mungkin karena takut diusir papi dan mami. Atau mungkin, karena tak ada lagi yang bisa kauberi pada si calon suami. Yang terakhir itu, sungguh kukatakan tulus dari dalam hati. Jika aku juga masih punya cadangan hati… Bertahun lalu, ketika segalanya masih utuh tersegel dalam diriku, aku bertemu manusia satu itu. Satu-satunya manusia yang kepadanyalah aku sela...